Dia gundah gulana Sebab hati ibunya sakit,dia memutuskan membawa hati ibunya
Ke tempat pengaduan bernama bawa bangsat(singkatan bangunan wakil bangsa dan rakyat)
Gedungnya kokoh,mewah,posmo,dan anehnya tiap malam kursi-kursinya hilang semua
Karena para wakil bangsa dan rakyat yang memiliki masing-masing kursi
Mereka kuatir,takut,dan berprasangka kalau-kalau kursi itu akan di duduki orang lain
Sehingga mereka membawa kursi-kursi itu pulang ke rumah
Dia iris dan belah dada ibunya lalu mengambil hati itu
Dan lekas-lekas membawa ke bawa bangsat
Maunya agar hati ibunya segera sembuh dari sakit
Setidaknya segera di tolong oleh wakil bangsa dan rakyat
Baru di tangga pertama gedung bawa bangsat kakinya terantuk dan dia terpeleset jatuh
Jatuh terjerembat hidung mencium lantai hati ibunya yang di pegangnya ikut terlepas
Dan jatuh pula di atas lantai membuat hati ibunya mengerang
Kata ibunya
“kenapa kau buang aku disini anakku?”
Dia menjawab lugu
“aku ingin mereka tahu bahwa ibu sakit hati”
Tapi kata ibunya
“engkau membuat lebih sakit disini
disini bukan tempat penyembuhan anakku
untuk menyembuhkan aku cukup dengan penghiburan
gedung ini bukan tempat untuk memperoleh penghiburan
ini Cuma sekedar gedung hiburan”
Dia termangu
“dimana perbedaannya ibunda?”
dan jawab ibunya
“penghiburan itu profetis anakku
sumbernya dari tuhan
terejawantah dalam mazmur-mazmur
sedang hiburan itu bisa semata profananakku
sumbernya dari lucifer
terejawantah dalam banyak politik
siasat,kiat bisnis,servis lidah
nah pungut kembali aku dari lantai ini anakku
lalu cepat bawa aku keluar dari gedung hiburan ini”
Dia tercanung
“kemana aku harus membawa engkau ibunda?”
Dan jawab ibunya
“kemana saja asal bukan di tempat
orang tampil sempurna sebagai bunglon”
dia terpancing
“masihkah ada tempat seperti itu ibunda?”
dan jawab ibunya
“cari dan temukan
pokoknya jangan terlalu lama di sini
gedung ini terlalu rapuh
fondasinya di campur adonan kue ongol-ongol
atapnya di campur dengan ragi tempe ketan
dan coba perhatikan sepanjang koridor
dindingnya adalah susunan tong sampah”
Dia terangsang
“itu bukan tong sampah ibunda
warnanya kebetulan sama dengan cat tong sampah”
dan jawab ibunya
“kau tidak percaya anakku ?
singkap saja kalau kau mau melihat bukti
Dia buka dinding itu
sekonyong perasaannya bergidik-gidik
mual dan termuntah-muntah oleh bau busuk dinding
di dalam dinding itu bertumpuk banyak hati manusia
yang seluruhnya pemimpin
wakil bangsa dan rakyat
terbengkalai bagai bagian-bagian tertentu
dari kepala udang yang mubazir dan tidak berfungsi
dinding itu telah menjadi tong sampah
bagi sekian banyak hati yang mati
membusuk dalam kumpulan terbuang
dia mulai memahami
“sekarang aku mulai mengerti ibunda
kalau begitu aku akan langsung saja
membawa kau kerumah tuhan
di situ ada penghirupan dan pengharapan”
dan jawab ibunya
“jangan anakku jangan
Dia jadi bimbang
“kenapa ibunda ?”
dan jawab ibunda
“rumah tuhanpun sekarang banyak yang di kilir
oleh petualang petualang agama
yang membawa hasut dan dengki”
Dia penasaran
“kali ini kau pasti keliru ibunda”
dan jawab ibunya
“tidak anakku tidak
di rumah tuhan juga di tempat para pemimpin agama
menyebut-nyebut nama tuhan sampai mulutnya kelu dan bibirnya lecet
justru di situ tidak sepi dendam,iri,dengki dan hasut kesadaran tuhan yang satu
dan toleransi pada yang berbeda jalan saat ini paling rendah paling jelek
dan para pemimpin agama itu yang bertanggung jawab”
Dia bingung
“jadi kemana aku harus bawa ibunda
supaya sisa hati yang hidup tau betapa hati ibunda benar-benar sakit
dan perlu pertolongan penyembuhan”
dan jawab ibunya
“bawalah aku kembali ke jisimku taruh kembali hati di tempat letak hati
hati menjadi lebih sakit kalau hati tidak berada di tempat
yang semestinya hati berada”
Dia tidak iklas
dia berteriak-teriak di bawa bangsat dan di tempat orang-orang sakit dan mati
yang waras malah tampil sebagai orang aneh dalam kenyataan aneh ini dia menangis
menangis memang perlu buat menyucikan jiwa
dalam tangis dia meratap menyanyikan nazam dalam titi laras biru
yang kian karib di sukma walau tanpa gatra
Begini nazamnya
“banyak orang berilmu tak bersikap
banyak orang bermata tak melihat
banyak orang berotak tak berpikir
banyak orang berkaki tak berpendirian
banyak orang berhati tak berperasaan”
Aku mau jadi yang seharusnya
putih bilangku putih hitam bilangku hitam
seperti bunga-bunga bangsa yang gugur di tanah ini
Kubawa nada berpegang irama buat madah bagi mereka
dijaga bayang darsana dalam ingatan segar
walau dua tangan dua kaki pumbakarna
putus di tebas panah gunawijaya prabu rama
terus dan terus pahlawan melawan lawannya
Kita pahlawan di saat kita jadi yang seharusnya
melawan kekuasaan yang berubah jadi kekerasan
Dia menyerah
sehabis menyaksikan nazamnya dia ditangkap
diintrogasi lalu di tahan di tuduh subversi
hati ibundanya tetap di pegang di sel
*soliloquy majalah jakarta no 547,28 desember 1996-3 januari 1997
Ke tempat pengaduan bernama bawa bangsat(singkatan bangunan wakil bangsa dan rakyat)
Gedungnya kokoh,mewah,posmo,dan anehnya tiap malam kursi-kursinya hilang semua
Karena para wakil bangsa dan rakyat yang memiliki masing-masing kursi
Mereka kuatir,takut,dan berprasangka kalau-kalau kursi itu akan di duduki orang lain
Sehingga mereka membawa kursi-kursi itu pulang ke rumah
Dia iris dan belah dada ibunya lalu mengambil hati itu
Dan lekas-lekas membawa ke bawa bangsat
Maunya agar hati ibunya segera sembuh dari sakit
Setidaknya segera di tolong oleh wakil bangsa dan rakyat
Baru di tangga pertama gedung bawa bangsat kakinya terantuk dan dia terpeleset jatuh
Jatuh terjerembat hidung mencium lantai hati ibunya yang di pegangnya ikut terlepas
Dan jatuh pula di atas lantai membuat hati ibunya mengerang
Kata ibunya
“kenapa kau buang aku disini anakku?”
Dia menjawab lugu
“aku ingin mereka tahu bahwa ibu sakit hati”
Tapi kata ibunya
“engkau membuat lebih sakit disini
disini bukan tempat penyembuhan anakku
untuk menyembuhkan aku cukup dengan penghiburan
gedung ini bukan tempat untuk memperoleh penghiburan
ini Cuma sekedar gedung hiburan”
Dia termangu
“dimana perbedaannya ibunda?”
dan jawab ibunya
“penghiburan itu profetis anakku
sumbernya dari tuhan
terejawantah dalam mazmur-mazmur
sedang hiburan itu bisa semata profananakku
sumbernya dari lucifer
terejawantah dalam banyak politik
siasat,kiat bisnis,servis lidah
nah pungut kembali aku dari lantai ini anakku
lalu cepat bawa aku keluar dari gedung hiburan ini”
Dia tercanung
“kemana aku harus membawa engkau ibunda?”
Dan jawab ibunya
“kemana saja asal bukan di tempat
orang tampil sempurna sebagai bunglon”
dia terpancing
“masihkah ada tempat seperti itu ibunda?”
dan jawab ibunya
“cari dan temukan
pokoknya jangan terlalu lama di sini
gedung ini terlalu rapuh
fondasinya di campur adonan kue ongol-ongol
atapnya di campur dengan ragi tempe ketan
dan coba perhatikan sepanjang koridor
dindingnya adalah susunan tong sampah”
Dia terangsang
“itu bukan tong sampah ibunda
warnanya kebetulan sama dengan cat tong sampah”
dan jawab ibunya
“kau tidak percaya anakku ?
singkap saja kalau kau mau melihat bukti
Dia buka dinding itu
sekonyong perasaannya bergidik-gidik
mual dan termuntah-muntah oleh bau busuk dinding
di dalam dinding itu bertumpuk banyak hati manusia
yang seluruhnya pemimpin
wakil bangsa dan rakyat
terbengkalai bagai bagian-bagian tertentu
dari kepala udang yang mubazir dan tidak berfungsi
dinding itu telah menjadi tong sampah
bagi sekian banyak hati yang mati
membusuk dalam kumpulan terbuang
dia mulai memahami
“sekarang aku mulai mengerti ibunda
kalau begitu aku akan langsung saja
membawa kau kerumah tuhan
di situ ada penghirupan dan pengharapan”
dan jawab ibunya
“jangan anakku jangan
Dia jadi bimbang
“kenapa ibunda ?”
dan jawab ibunda
“rumah tuhanpun sekarang banyak yang di kilir
oleh petualang petualang agama
yang membawa hasut dan dengki”
Dia penasaran
“kali ini kau pasti keliru ibunda”
dan jawab ibunya
“tidak anakku tidak
di rumah tuhan juga di tempat para pemimpin agama
menyebut-nyebut nama tuhan sampai mulutnya kelu dan bibirnya lecet
justru di situ tidak sepi dendam,iri,dengki dan hasut kesadaran tuhan yang satu
dan toleransi pada yang berbeda jalan saat ini paling rendah paling jelek
dan para pemimpin agama itu yang bertanggung jawab”
Dia bingung
“jadi kemana aku harus bawa ibunda
supaya sisa hati yang hidup tau betapa hati ibunda benar-benar sakit
dan perlu pertolongan penyembuhan”
dan jawab ibunya
“bawalah aku kembali ke jisimku taruh kembali hati di tempat letak hati
hati menjadi lebih sakit kalau hati tidak berada di tempat
yang semestinya hati berada”
Dia tidak iklas
dia berteriak-teriak di bawa bangsat dan di tempat orang-orang sakit dan mati
yang waras malah tampil sebagai orang aneh dalam kenyataan aneh ini dia menangis
menangis memang perlu buat menyucikan jiwa
dalam tangis dia meratap menyanyikan nazam dalam titi laras biru
yang kian karib di sukma walau tanpa gatra
Begini nazamnya
“banyak orang berilmu tak bersikap
banyak orang bermata tak melihat
banyak orang berotak tak berpikir
banyak orang berkaki tak berpendirian
banyak orang berhati tak berperasaan”
Aku mau jadi yang seharusnya
putih bilangku putih hitam bilangku hitam
seperti bunga-bunga bangsa yang gugur di tanah ini
Kubawa nada berpegang irama buat madah bagi mereka
dijaga bayang darsana dalam ingatan segar
walau dua tangan dua kaki pumbakarna
putus di tebas panah gunawijaya prabu rama
terus dan terus pahlawan melawan lawannya
Kita pahlawan di saat kita jadi yang seharusnya
melawan kekuasaan yang berubah jadi kekerasan
Dia menyerah
sehabis menyaksikan nazamnya dia ditangkap
diintrogasi lalu di tahan di tuduh subversi
hati ibundanya tetap di pegang di sel
*soliloquy majalah jakarta no 547,28 desember 1996-3 januari 1997
Posting Komentar
Mohon Kritikannya Gan Biar Lebih slow menjalani hidup....